Laman

Kamis, 08 April 2010

RELEVANSI FILSAFAT ILMU DENGAN FILSAFAT PENDIDIKAN


A

RELEVANSI FILSAFAT ILMU DENGAN

FILSAFAT PENDIDIKAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah

FILSAFAT ILMU

Dosen Pengampu: Dr. H. Azis Mahfuddin, M.Pd.

Disusun Oleh:

ADANG SUTARMAN

(0908095)


SEKOLAH PASCASARJANA

PROGRAM STUDI PENGEMBANGAN KURIKULUM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

2010

Kata Pengantar

Puji dan syukur kami panjatkan ke Hadirat Illahi Rabbi karena atas kehendak-Nya penyusunan makalah Relevansi Filsafat Ilmu dengan Filsafat Pendidikan ini dapat diselesaikan.

Filsafat sebagai salah satu aspek yang melandasi pengembangan kurikulum tentu memiliki peran dan fungsi yang nyata dalam kurikulum yang akan dikupas dalam makalah ini yang diambil dari beberapa literatur.

Makalah ini terbagi menjadi tiga bagian utama. Di bagian pendahuluan dipaparkan latar belakang dan maksud tujuan penyusunan makalah ini. Selanjutnya pada bab II dicoba diulas mengenai Filsafat Ilmu dalam kaitannya dengan Filsafat Pendidikan, yang kami peroleh dari berbagai literatur. Bab terakhir adalah uraian singkat tentang apa yang bisa disimpulkan dari berbagai informasi tentang Filsafat Ilmu dengan Filsafat pendidikan.

Penyusunan makalah ini disadari masih jauh dari sempurna, dan masih terdapat banyak kekurangan di sana sini. Untuk itu segala macam kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai dapat diterima dengan lapang dada dan tangan terbuka.

Tak lupa juga penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berjasa membantu kami dalam menyelesaikan penyusunan makalah ini.

Akhir kata makalah ini diharapkan bisa memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi dunia akademis penulis pada khususnya, dan bagi pengetahuan semua pihak yang membaca pada umumnya.

Serang, Maret 2010

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................. i

DAFTAR ISI............................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.............................................................................. 1

B. Rumusan Masalah........................................................................................ 2

C. Tujuan Penulisan.......................................................................................... 2

D. Prosedur Pemecahan Masalah...................................................................... 3

E. Sistematika Uraian....................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN

A. Filsafat Ilmu................................................................................................ 4

1. Pengertian Filsafat Ilmu........................................................................... 4

2. Substansi Filsafat Ilmu............................................................................. 6

3. Corak dan Ragam Filsafat Ilmu............................................................... 9

B. Filsafat Pendidikan...................................................................................... 10

1. Pengertian Filsafat Pendidikan................................................................ 10

2. Aliran-aliran Filsafat Pendidikan............................................................. 12

C. Relevansi Filsafat Ilmu dengan Filsafat pendidikan.................................... 15

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................................. 17

B. Saran............................................................................................................ 18

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam keseluruhan hidup manusia. Pendidikan berintikan interaksi antar manusia, terutama antara pendidik dan terdidik demi mencapai tujuan pendidikan. Dalam interaksi tersebut terlibat isi yang diinteraksikan serta proses bagaimana interaksi tersebut berlangsung. Apakah yang menjadi tujuan pendidikan, siapakah pendidik dan terdidik, apa isi pendidikan dan bagaimana proses interaksi pendidikan tersebut, merupakan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang mendasar, yang esensial, yakni jawaban-jawaban filosofis.

Kurikulum memiliki kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan, dengan kata lain kurikulum adalah jantungnya pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Pengertian kurikulum mengacu pada kegiatan pendidikan yang berbentuk interaksi akademik antara peserta didik, pendidik, sumber dan lingkungan. Interaksi akademik merupakan jiwa dari pendidikan, dan kurikulum adalah desain dari interaksi tersebut.

Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya, akan berkibat pula terhadap kegagalan proses pengembangan manusia. Dari sekian landasan yang dibutuhkan dalam pengembangan kurikulum, termasuk di dalamnya adalah landasan filosofis.

Filsafat berperan memberikan inspirasi pada pendidikan, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik. Seorang guru perlu menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni mengajar materi subyek terkait, agar tidak terjadi salah konsep pada diri peserta didik.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa filsafat memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal, dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kurikulum dan melandasi pengembangan kurikulum. Filsafat sebagai ilmu dari segala ilmu sudah barang tentu memiliki peran dan fungsi yang jelas dalam pengembangan kurikulum. Oleh sebab itu, dalam makalah ini akan dikaji mengenai relevansi Filsafat Ilmu dengan Filsafat Pendidikan

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapatlah dirumuskan suatu pokok masalah yaitu ”Relevansi Filsafat Ilmu dengan Filsafat Pendidikan”, yang kemudian disusun dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

1. Apakah yang dimaksud dengan filsafat?

2. Apakah yang dimaksud dengan Filsafat Pendidikan?

3. Apa Relevansinya Filsafat Ilmu dengan Filsafat Pendidikan?

C. TUJUAN PENULISAN

Penulisan makalah ini bertujuan untuk memeroleh suatu gambaran secara teoritis tentang Relevansi Filsafat Ilmu dengan Filsafat Pendidikan.

Adapun tujuan khusus penulisan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan:

1. Makna filsafat secara umum.

2. Makna Filsafat Pendidikan Secara Umum.

3. Relevansi filsafat ilmu dengan filsafat pendidikan.

D. PROSEDUR PEMECAHAN MASALAH

Prosedur pemecahan masalah yang digunakan dalam menjawab rumusan masalah dalam makalah ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif melalui kajian literatur atau artikel yang berkaitan dengan filsafat ilmu dengan filsafat pendidikan

E. SISTEMATIKA URAIAN

Makalah ini terdiri dari:

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

BAB I PENDAHULUAN yang meliputi:

a. Latar Belakang Masalah

b. Rumusan Masalah

c. Tujuan Penulisan

d. Prosedur Pemecahan Masalah

e. Sistematika Penulisan

BAB II PEMBAHASAN yang mencakup:

a. Filsafat Ilmu

b. Filsafat Pendidikan

c. Relevansi Filsafat Ilmu dengan Filsafat Pendidikan

BAB III PENUTUP yang berisi:

a. Kesimpulan

b. Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB II

PEMBAHASAN

A. FILSAFAT ILMU

Pengertian Filsafat

Para filsuf memberi batasan yang berbeda-beda mengenai filsafat, namun batasan yang berbeda itu tidak mendasar. Selanjutnya batasan filsafat dapat ditinjau dari dua segi yaitu secara etimologi dan secara terminologi.

Secara etimologi, kata filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab: falsafah, yang juga diambil dari bahasa Yunani: philosophia. Kata philosophia merupakan gabungan dari dua kata yaitu philos dan sophia. Philos berarti sahabat, cinta, atau kekasih, sedangkan sophia memiliki arti kebijaksanaan, pengetahuan, kearifan. Dengan demikian maka arti dari kata philosophia adalah “cinta pengetahuan atau cita kebijaksanaan”. Plato dan Socrates dikenal sebagai philosophos (filsuf) yakni orang yang mencintai pengetahuan, pencari kebijaksanaan, dan pencinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.

Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam. Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Plato (428 -348 SM) berpendapat bahwa filsafat tidak lain dari pengetahuan tentang segala yang ada dan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli. Sementara muridnya Aristoteles (384-322 SM) berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, di mana terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Lebih lanjut Aristoteles menyebutkan bahwa kewajiban filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu umum sekali. Tugas penyelidikan tentang sebab telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu.

Menurut Cicero (106 – 43 SM) filsafat adalah sebagai “ibu dari semua seni “ (the mother of all the arts, ia juga mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae (seni kehidupan). Sementara Johann Gotlich Fickte (1762-1814) mendefinisikan filsafat sebagai Wissenschaftslehre, ilmu dari ilmu-ilmu, yakni ilmu umum, yang jadi dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan. Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran dari seluruh kenyataan.

Filsafat menurut Paul Nartorp (1854 – 1924) adalah Grundwissenschaft, yakni ilmu dasar yang hendak menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukan dasar akhir yang sama. Selain itu, Imanuel Kant (1724 – 1804) mengungkapkan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang di dalamnya tercakup empat persoalan: (1) Metafisika, yang menjawab pertanyaan “apakah yang dapat kita kerjakan?” ; (2) Etika, yang menjawab pertanyaan “apakah yang seharusnya kita kerjakan?” ; (3) Agama, yang menjawab pertanyaan “sampai dimanakah harapan kita?”; dan (4) Antropologi, yang menjawab pertanyaan “apakah yang dinamakan manusia?

Menurut Notonegoro filsafat menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah, yang disebut hakekat. Sedangkan Sidi Gazalba berpendapat bahwa berfilsafat ialah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran, tentang segala sesuatu yang di masalahkan, dengan berfikir radikal, sistematik dan universal. Lebih lanjut Harold H. Titus menjelaskan bahwa: (1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepecayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi; (2) Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh suatu pandangan keseluruhan; (3) Filsafat adalah analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan pengertian (konsep); Filsafat adalah kumpulan masalah yang mendapat perhatian manusia dan yang dicirikan jawabannya oleh para ahli filsafat.

Dari semua pengertian filsafat secara terminologis yang telah dipaparkan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya secara mendalam dan sungguh-sungguh, serta radikal sehingga mencapai hakikat segala situasi tersebut.

1. Pengertian Filsafat Ilmu

Filsafat Ilmu dalah cabang epistemologi yang menelaah secara sistematis sifat dasar ilmu, mtode-metode, konsep-konsepnya, praanggapan-praanggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang pengetahuan.

Filsafat ilmu memiliki objek material dan dan objek formal. Objek material adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu sehingga dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Objek formal adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan; problem -problem mendasar ilmu pengetahuan seperti apa hakikat ilmu itu sesungguhnya.

2. Substansi filsafat ilmu

Telaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya dalam empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi.

1. Fakta atau kenyataan

Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya.

  • Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya.
  • Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai.
  • Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan
  • Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan obyektif.
  • Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.

Di sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyek kegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah.

2. Kebenaran (truth)

Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secara tradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatik (Jujun S. Suriasumantri, 1982). Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu, yaitu : kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannya satu teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik. (Ismaun; 2001)

a. Kebenaran koherensi

Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran transendental.

b. Kebenaran korespondensi

Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik

c. Kebenaran performatif

Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan.

d. Kebenaran pragmatik

Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis.

e. Kebenaran proposisi

Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisi-proposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan persyaratan formal suatu proposisi. Pendapat lain yaitu dari Euclides, bahwa proposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya, melainkan dilihat dari benar materialnya.

f. Kebenaran struktural paradigmatik

Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenaran korespondensi. Sampai sekarang analisis regresi, analisis faktor, dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai, karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh.

3. Konfirmasi

Fungsi ilmu adalah menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang, atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi, postulat, atau axioma yang sudah dipastikan benar. Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan asumsi dan postulatnya. Sedangkan untuk membuat penjelasan, prediksi atau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif, deduktif, ataupun reflektif.

4. Logika inferensi

Logika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX adalah logika matematika, yang menguasai positivisme. Positivistik menampilkan kebenaran korespondensi antara fakta. Fenomenologi Russel menampilkan korespondensi antara yang dipercaya dengan fakta. Belief pada Russel memang memuat moral, tapi masih bersifat spesifik, belum ada skema moral yang jelas, tidak general sehingga inferensi penelitian berupa kesimpulan kasus atau kesimpulan ideografik.

Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antara rasional, koheren antara fakta dengan skema rasio, Fenomena Bogdan dan Guba menampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral. Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaran struktural paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadjir mengenalkan realisme metafisik dengan menampilkan kebenaranan struktural paradigmatik moral transensden. (Ismaun,200:9)

Di lain pihak, Jujun Suriasumantri (1982:46-49) menjelaskan bahwa penarikan kesimpulan baru dianggap sahih kalau penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu, yakni berdasarkan logika. Secara garis besarnya, logika terbagi ke dalam 2 bagian, yaitu logika induksi dan logika deduksi.

3. Corak Dan Ragam Filsafat Ilmu

Ismaun (2001:1) mengungkapkan beberapa corak ragam filsafat ilmu, diantaranya:

  • Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam, yaitu : (1) meta ideologi, (2) meta fisik dan (3) metodologi disiplin ilmu.
  • Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-Ends) menjadi means. Teknologi bukan lagi dilihat sebagai ends, melainkan sebagai kepanjangan ide manusia.
  • Filsafat seni/estetika mutakhir menempatkan produk seni atau keindahan sebagai salah satu tri-partit, yakni kebudayaan, produk domain kognitif dan produk alasan praktis.

Produk domain kognitif murni tampil memenuhi kriteria: nyata, benar, dan logis. Bila etik dimasukkan, maka perlu ditambah koheren dengan moral. Produk alasan praktis tampil memenuhi kriteria oprasional, efisien dan produktif. Bila etik dimasukkan perlu ditambah human.manusiawi, tidak mengeksploitasi orang lain, atau lebih diekstensikan lagi menjadi tidak merusak lingkungan.

B. FILSAFAT PENDIDIKAN

1. Pengertian Filsafat Pendidikan

Filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan (Kneller, 1971). Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan.

Seorang guru atau pendidik, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan. Seorang pendidik perlu memahami dan tidak boleh buta terhadap filsafat pendidikan, karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan. Tujuan pendidikan perlu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan hidup. Pendidik sebagai pribadi mempunyai tujuan hidupnya dan pendidik sebagai warga masyarakat mempunyai tujuan hidup bersama. Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (guru). Dengan demikian hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar. Selain itu pemahaman filsafat pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa rencana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.

Hubungan filsafat dengan konsep pendidikan bisa ditinjau dari tiga cabang besar filsafat, yaitu metafisika, epistemologi, dan aksiologi.

a. Metafisika
Metafisika merupakan bagian filsafat yang mempelajari masalah hakekat: hakekat dunia, hakekat manusia, termasuk di dalamnya hakekat anak. Metafisika secara praktis akan menjadi persoalan utama dalam pendidikan. Karena anak bergaul dengan dunia sekitarnya, maka ia memiliki dorongan yang kuat untuk memahami tentang segala sesuatu yang ada. Memahami filsafat ini diperlukan secara implisit untuk mengetahui tujuan pendidikan. Seorang pendidik seharusnya tidak hanya tahu tentang hakekat dunia dimana ia tinggal, tetapi harus tahu hakekat manusia, khususnya hakekat anak.

b. Epistemologi
Kumpulan pertanyaan berikut yang berhubungan dengan para pendidik adalah epistemologi. Pengetahuan apa yang benar? Bagaimana mengetahui itu berlangsung? Bagaimana kita mengetahui bahwa kita mengetahui? Bagaimana kita memutuskan antara dua pandangan pengetahuan yang berlawanan? Apakah kebenaran itu konstan, ataukah kebenaran itu berubah dari situasi satu ke situasi lainnya? Dan akhirnya pengetahuan apakah yang paling berharga?

Bagaimana menjawab pertanyaan epistemologis tersebut akan memiliki implikasi signifikan untuk pendekatan kurikulum dan pengajaran. Pertama pendidik harus menentukan apa yang benar mengenai muatan yang diajarkan, kemudian pendidik harus menentukan alat yang paling tepat untuk membawa muatan ini bagi warga belajar. Meskipun ada banyak cara mengetahui, setidaknya ada lima cara mengetahui sesuai dengan minat atau kepentingan masing-masing pendidik, yaitu mengetahui berdasarkan otoritas, wahyu Tuhan, empirisme, nalar, dan intuisi.

Pendidik tidak hanya mengetahui bagaimana warga belajar memperoleh pengetahuan, melainkan juga bagaimana warga belajar mengikuti pembelajaran. Dengan demikian epistemologi memberikan sumbangan bagi teori pendidikan dalam menentukan kurikulum. Pengetahuan apa yang harus diberikan kepada anak dan bagaimana cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut, begitu juga bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut.

c. Aksiologi
Cabang filsafat yang membahas nilai baik dan nilai buruk, indah dan tidak indah, erat kaitannya dengan pendidikan, karena dunia nilai akan selalu dipertimbangkan atau akan menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan tujuan pendidikan. Langsung atau tidak langsung, nilai akan menentukan perbuatan pendidikan. Nilai merupakan hubungan sosial. Pertanyaan-pertanyaan aksiologis yang harus dijawab pendidik adalah: Nilai-nilai apa yang dikenalkan pendidik kepada warga belajar untuk diadopsi? Nilai-nilai apa yang mengangkat manusia pada ekspresi kemanusiaan yang tertinggi? Nilai-nilai apa yang benar-benar dipegang orang yang benar-benar terdidik?

Pada intinya aksiologi menyoroti fakta bahwa pendidik memiliki suatu minat tidak hanya pada kuantitas pengetahuan yang diperoleh warga belajar melainkan juga dalam kualitas kehidupan yang dimungkinkan karena pengetahuan. Pengetahuan yang luas tidak dapat memberi keuntungan pada individu jika ia tidak mampu menggunakan pengetahuan untuk kebaikan. Filsafat pendidikan terdiri dari apa yang diyakini seorang pendidik mengenai pendidikan, atau merupakan kumpulan prinsip yang membimbing tindakan profesional pendidik. Setiap pendidik baik mengetahui atau tidak memiliki suatu filsafat pendidikan, yaitu seperangkat keyakinan tentang bagaimana manusia belajar dan tumbuh serta apa yang harus manusia pelajari agar dapat tinggal dalam kehidupan yang baik. Filsafat pendidikan secara fital juga berhubungan dengan pengembangan semua aspek pengajaran. Dengan menempatkan filsafat pendidikan pada tataran praktis, para pendidik dapat menemukan berbagai pemecahan permasalahan pendidikan.

2. Aliran-aliran Filsafat Pendidikan

Sejarah perjalanan perkembangan keyakinan dan pemikiran umat manusia tentang pendidikan telah melahirkan sejumlah filsafat yang melandasinya. Berdasarkan bagaimana manusia dibentuk, terdapat tiga aliran paham yang dirasakan masih dominan pengaruhnya hingga saat ini, yakni: Nativisme atau Naturalisme, Empirisme atau Environtalisme, dan Konvergensionisme atau Interaksionisme.

Tokoh nativisme atau naturalisme antara lain J.J. Rousseau (1712-1778) dan Schopenhauer (1788-1860 M). Paham ini berpendirian bahwa setiap bayi lahir dalam keadaan suci dan dianugerahi dengan potensi insaniah yang dapat berkembang secara alamiah. Karena itu, pendidikan pada dasarnya sekedar merupakan suatu proses pemberian kemudahan agar anak berkembang sesuai dengan kodrat alamiahnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung pesimistik.

Dengan tokohnya antara lain John Locke (1632-1704 M) dan J. Herbart (1776-1841 M), Empirisme atau Environtalisme berpandangan bahwa manusia lahir hanya membawa bahan dasar yang masih suci namun belum berbentuk apapun, bagaikan papan tulis yang masih bersih belum tertulisi (Tabula Rasa, Locke ) atau sebuah bejana yang masih kosong (Herbart). Atas dasar itu, pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu proses pembentukan dan pengisian pribadi peserta didik ke arah pola yang diinginkan dan diharapkan lingkungan masyarakatnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung optimistik.

Tokoh paham Konvergensionisme atau interaksionisme antara lain William Stern (1871-1939). Paham ini pada dasarnya merupakan perpaduan dari kedua pandangan terdahulu. Menurut pandangan ini, baik pembawaan anak maupun lingkungan merupakan faktor-faktor yang determinan terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi peserta didik. Oleh karenanya, pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu rangkaian peristiwa interaksi antara pembawaan dengan lingkungan. Pribadi peserta didik akan terbentuk sebagai resultante atau hasil interaksi dari kedua faktor determinan tersebut. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung rasional.

Pembagian Nativisme atau Naturalisme, Empirisme atau Environtalisme, dan Konvergensionisme atau Interaksionisme yang telah disebutkan di atas adalah pembagian berdasarkan bagaimana manusia dibentuk, sedangkan menurut pembagian berdasarkan apa yang harus diajarkan sebagai muatan pendidikan terdapat: (1) Konservatif, yang mengajarkan apa yang sudah berlaku di masyarakat; (2) Idealisme, yang mengajarkan apa yang menjadi ide abadi sepanjang masa; (3) Liberalisme, yang mengajarkan ilmu sebagai bekal hidup; (4) Liberasionisme, yang mengajarkan ilmu yang membebaskan; dan (5) Anarkisme, yang mengajarkan sesuai dengan kebutuhan lokal

Sementara aliran filsafat yang dirasakan sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan adalah idealisme, realisme, pragmatisme, dan rekonstruksionisme.

a. Idealisme

Idealisme berpandangan bahwa pengetahuan itu sudah ada dalam jiwa kita. Untuk membawanya pada tingkat kesadaran perlu adanya proses introspeksi. Aliran ini juga berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegesi. Tujuan pendidikannya adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri, membentuk karakter manusia, dan memberikan bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan

b. Realisme

Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis, yakni terdiri dari dunia fisik dan dunia ruhani. Dengan kata lain realitas dibagi menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Tujuan pendidikannya yaitu membentuk individu yang mampu menyesuaikan diri dalam masyarakat dan memiliki rasa tanggung jawab kepada masyarakat

c. Pragmatisme

Pragmatisme adalah kreasi filsafat dari Amerika, dipengaruhi oleh empirisme, utilitarianisme, dan positivisme, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi. Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut), tidak doktriner, tetapi relatif tergantung kepada kemampuan manusia . Aliran ini mendasari munculnya model konsep kurikulum rekonstruksi sosial yang menekankan pemecahan problema masyarakat. Esensi ajaran pragmatisme ialah bahwa hidup bukan untuk mencari kebenaran melainkan untuk menemukan arti atau kegunaan. Tujuan pendidikannya yaitu menggunakan pengalaman sebagai alat untuk menyelesaikan hal-hal baru dalam kehidupan pribadi dan masyarakat

d. Rekonstruksionisme

Rekonstruksionisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme (pragmatisme). Paham ini berpendapat bahwa, pengetahuan diperoleh melalui proses aktif individu mengkonstruksi arti dari suatu teks, pengalaman fisik, dialog, dan lain-lain melalui asimilasi pengalaman baru dengan pengertian yang telah dimiliki seseorang. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruksionisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses. Tujuan pendidikannya adalah untuk menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berpikir untuk menyelesaikan persoalan hidupnya.

2. RELEVANSI FILSAFAT ILMU DENGAN FILSAFAT PENDIDIKAN

Seperti telah diungkapkan sebelumnya, filsafat sebagai pedoman dalam pendidkan terutama dalam penyususnan kurikulum menjawab pertanyaan-pertanyaan pokok seperti: (1) Hendak dibawa ke mana siswa yang dididik itu?; (2) Masyarakat yang bagaimana yang harus diciptakan melalui usaha pendidikan itu; (3) Apa hakikat pengetahuan yang harus diketahui dan dikaji siswa?; (4) Norma-norma atau sistem nilai yang bagaimana yang harus diwariskan kepada anak didik sebagai generasi penerus?; dan (5) Bagaimana sebaiknya proses pendidikan itu berlangsung?.

Kurikulum pada hakikatnya berfungsi untuk mempersiapkan anggota masyarakat yang dapat mempertahan, mengembangkan dan dapat hidup dalam sistem nilai masyarakatnya itu sendiri, oleh sebab itu proses pengembangan kurikulum harus mencerminkan sistem nilai masyarakat.

Berikut diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat Ilmu, kaitannya dengan filsafat pendidikan terutama dalam penyususnan kurikulum.

a. Perenialisme

lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut paham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.

b. Essensialisme

menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.

c. Eksistensialisme

menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan: bagaimana saya hidup di dunia? Apa pengalaman itu?

d. Progresivisme

menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.

e. Rekonstruktivisme

merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pendidikan berintikan interaksi antar manusia, terutama antara pendidik dan terdidik demi mencapai tujuan pendidikan. Dalam interaksi tersebut terlibat isi yang diinteraksikan serta proses bagaimana interaksi tersebut berlangsung. Apakah yang menjadi tujuan pendidikan, siapakah pendidik dan terdidik, apa isi pendidikan dan bagaimana proses interaksi pendidikan tersebut, merupakan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang mendasar, yang esensial, yakni jawaban-jawaban filosofis.

Filsafat secara harfiah berarti cinta yang mendalam akan kearifan. Secara populer filsafat sering diartikan sebagai pandangan hidup suatu masyarakat atau pendirian hidup bagi individu. Dengan demikian setiap individu atau setiap kelompok masyarakat secara filosofis akan memiliki pandangan hidup yang mungkin berbeda sesuai dengan nilai-nilai yang dianggapnya baik.

Filsafat sebagai sistem nilai harus menjadi landasan dalam menentukan tujuan pendidikan. Dengan kata lain, pandangan hidup atau sistem nilai yang dianggap baik oleh suatu masyarakat akan tercermin dalam tujuan pendidikan yang harus dicapai. Manusia macam apa yang kita harapkan sebagai akhir dari proses pendidikan? Akan dibawa ke mana anak didik itu? Apa yang harus dikuasai oleh mereka? Merupakan pertanyaan-pertanyaan yang erat kaitannya dengan filsafat sebagai sistem nilai.

Filsafat memegang peran yang esensial dalam pengembangan kurikulum. Sama halnya dengan filsafat pendidikan, kita mengenal beberapa aliran dalam filsafat. Dalam pengembangan pun senantiasa berpijak pada aliran-aliran filsafat tersebut yang nantinya akan mewarnai konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. Terdapat beberapa perbedaan mengenai filsafat, Wina Sanjaya (2008) mengungkapkan bahwa ada empat aliran utama dalam filsafat, yaitu idealisme, realisme, pragmatisme, dan eksistensialisme. Aliran tersebut mengkaji tentang cabang filsafat, seperti metafisika (hakikat dunia kenyataan), epistemologi (hakikat pengetahuan), dan aksiologi (nilai-nilai). Setiap aliran memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai cabang-cabang filsafat itu.

Berdasarkan uraian di atas bisa dipahami bahwa dalam pengembangan kurikulum tidak dapat terlepas dari azas atau landasan filosofis, yang didalamnya terdapat sumber nilai, makna kehidupan, aturan hidup, tujuan pendidikan serta pandangan terhadap peserta didik.

B. SARAN

Filsafat sangat penting dipertimbangkan dalam mengambil keputusan tentang setiap aspek kurikulum. Maka sudah selayaknya seorang pendidik dalam berperilaku di dalam kelas atau di luar kelas harus didasarkan apa yang dipercayai, yang diyakini sebagai baik dan benar. Pendidik yang baik patut memahami apa itu hakikat manusia, khususnya hakikat siswa beserta sifat-sifatnya; apa itu sumber kebenaran dan nilai-nilai yang dijadikan pegangan hidup; tentang apa yang baik; tentang apa itu hidup yang baik; apakah peranan sekolah dalam masyarakat; apa peran guru dalam proses belajar; dan sebagainya. Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tentu saja seorang pendidik disarankan untuk memahami dan mendalami filsafat.

Dari sekian banyaknya aliran filsafat beserta turunannya, hendaknya hal tersebut tidak memojokkan kita untuk fanatik terhadap salah satu aliran saja. Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri, dan hal tersebut perlu disikapi dengan bijak oleh para pendidik atau juga pengembang kurikulum, yakni bahwa masing-masing aliran filsafat bisa saling melengkapi satu sama lain. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum ataupun dalam pembelajaran, alangkah lebih baik jika penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

____________. (2006). Filsafat. [online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat. [20 November 2008]

Kneller, F. George. (1971). Introduction to the Philosophy of Education, New York: John Wiley & Sons, Inc.

Nasution, S. (2006). Asas-asas Kurikulum, Jakarta: PT Bumi Aksara.

Sanjaya, Wina, Dr., M.Pd. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Kencana.

Sudrajat, Akhmad. (2008). Aliran Filsafat Pendidikan. [online]. Tersedia: http:// akhmadsudrajat.wordpress.com/kumpulan-makalah-2/2008/05/01 /aliranfilsafatpendidikan/. [20 Oktober 2008]

Sudrajat, Akhmad. (2008). Komponen-komponen Kurikulum. [online]. Tersedia: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/kumpulan-makalah-2/2008/01/22/komponen-komponen-kurikulum/. [20 Oktober 2008]

Sudrajat, Akhmad. (2008). Pengertian Filsafat. [online]. Tersedia: http:// akhmadsudrajat.wordpress.com//kumpulan-makalah-2/2008/02/08/pengertian-filsafat/. [20 Oktober 2008]

Tidak ada komentar: